WASPADA CHIKI NGEBUL

Sensasi dingin dan kemampuannya mengeluarkan asap membuat jajanan ciki ngebul yang mengandung nitrogen cair banyak digemari masyarakat utamanya anak-anak.

Namun tahukah kamu, dibalik sensasinya yang unik, jajanan warna-warni ini menyimpan bahaya untuk kesehatan?

Jawabannya telah #dinkes rangkum, Simak informasinya sampai akhir dan jangan lupa share keorang sekitarmu ya ❤️

#sampanghebatbermartabat
#sampangsehat
#sampang
#esngebul
#bahaya

Selamat Memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-58

Selamat Memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-58

Sesuai dengan tema HKN ke 58 tahun 2022 yaitu  “BANGKIT INDONESIAKU, SEHAT NEGERIKU” Tema ini dipilih untuk menggambarkan bangkitnya semangat dan optimisme seluruh lapisan masyarakat yang secara bersama, bahu membahu, dan bergotong royong dalam membangun kesehatan, sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dan produktif serta kembali bangkit dan kembali sehat.

Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dan terpenting dari pembangunan nasional. Di era ini, kami akan terus concern terhadap peningkatan fasilitas layanan kesehatan bagi masyarakat, salah satunya dengan mendekatkan akses pelayanan kesehatan di masyarakat. BLUD Puskesmas ini merupakan salah satu upaya Pemerintah untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat, dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang cepat, tepat dan terjangkau. Dengan Puskesmas BLUD ini, permasalahan-permasalahan kesehatan masyarakat dapat segera ditangani dengan cepat dan tepat.

Tujuan utama adanya Puskesmas BLUD ini adalah untuk menjawab permasalahan-permasalahan kesehatan khususnya dalam hal pelayanan kesehatan  yang memerlukan pelayanan dasar dengan segera,  sehingga diharapkan keberadaan Puskesmas BLUD ini dapat memberikan solusi yang cepat dan tepat untuk memenuhi kebutuhan  dan tuntutan masyarakat dalam hal pelayanan kesehatan.

Dengan hadirnya Puskesmas BLUD ini, diharapkan dapat semakin mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, serta mampu menjadi ujung tombak dalam mewujudkan tercapainya keberhasilan pelaksanaan pembangunan bidang kesehatan serta dapat membantu Pemerintah Kabupaten Sampang dalam upaya menghasilkan sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas guna mendukung tercapainya visi pembangunan kesehatan Kabupaten Sampang menuju SAMPANG HEBAT BERMARTABAT.

CORONA VIRUS VARIAN OMICRON SUB VARIAN XBB

CORONA VIRUS Varian OMICRON Sub Varian XBB
Adalah sub varian baru dari varian omicron sub varian ini tidak memiliki security yang lebih besar dari varian sebelumnya tetapi mempunyai daya sebar yang lebih kuat. Gejala dan tanda yang di timbulkan apabila terkena infeksi sub varian ini yang hampir sama dengan varian varian sebelumnya.

Kewaspadaan lebih ditujukan untuk menghindari kontak dengan penderita melalui protokol kesehatan yang tepat. Vaksinasi booster merupakan senjata yang cukup ampuh untuk menghadapi infeksi corona varian XBB ini.
Kepda masyarakat diharapkan tetap menjaga prokes (memakai masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan) dan vaksinasi sampai booster

 

Oleh : dr. Yuliyono, M.Kes (Kabid P2PM)

KEWASPADAAN TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT CAMPAK

KEWASPADAAN TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT CAMPAK

Penyakit campak adalah penyakit infeksi yang di sebabkan oleh virus yang termasuk golongan paramycovirus. Penyakit ini menular melalui air born dan sangat berbeda dengan cara penularan penyakit Covid-19, yang melalui droplet infection. Gejala penyakit campak berupa batuk berdahak, pilek, demam tinggi dan mata merah. Juga di dapati adanya bercak koplik pada mukosa mulut, gejala lain badan lemes, nyeri, sakit kepala, diare, dan muntah-muntah.

Diagnosa campak di tentukan berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium. Diagnosa pasti dilakukan melalui reverse transcriptase-polymerase chain reaction (RT-PCR) saat ini di jumpai beberapa varian virus campak yaitu varian B3, B4, D3, D4, D7, D8, Varian H1.

Belum ditemukan obat anti virusnya, pengobatan di tujukan untuk:

1. Memperbaiki status imunologi;

2. Pengobatan supportif yaitu pemberian vitami A dosis tinggi untuk memperbaiki sel-sel mukosa yang rusak;

3. Imunisasi masif;

4. Isolasi selama 10 hari.

Masyarakat dihimbau untuk mewaspadai terjadinya penyakit campak ini melalui upaya-upaya :

1. Mengurangi kontak dengan pasien;

2. Memperbaiki status gizi;

3. Melakukan imunisasi;

4. Segera melaporkan ke pos pelayanan kesehtan terdekat bila dijumpai tanda-tanda penyakit campak.

 

Oleh : dr. Yuliyono, M.Kes (Kabid P2PM)

Mencegah Penyakit Difteri

Difteri adalah salah satu penyakit yang sangat menular yang dapat dicegah dengan imunisasi, disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae strain toksigenik. Manusia adalah satu-satunya reservoir Corynebacterium diptheriae. Penularan terjadi secara droplet (percikan ludah) dari batuk, bersin, muntah, melalui alat makan, atau kontak erat langsung dari lesi di kulit.

              Di tahun 2019, kasus difteri menyebar di hampir semua wilayah di Indonesia. Jumlah kasus difteri pada tahun 2019 sebanyak 529 kasus, jumlah kematian sebanyak 23 kasus. Jumlah kasus difteri tahun 2019 mengalami penurunan yang cukup signifikan jika dibandingkan tahun 2018 (1.386 kasus). Jumlah kematian akibat difteri juga mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelumnya (29 kasus). Berdasarkan provinsi, jumlah kasus terbanyak terdapat di Jawa Timur, yakni sebanyak 178 kasus.

              Penyakit difteri ditandai dengan gejala awal badan lemas, sakit tenggorok, pilek seperti
infeksi saluran napas bagian atas pada umumnya. Gejala ini dapat berlanjut adanya bercak
darah pada cairan hidung, suara serak, batuk dan atau sakit menelan. Pada anak bisa
terjadi air liur menetes atau keluarnya lendir dari mulut. Pada kasus berat, akan terjadi
napas berbunyi (stridor) dan sesak napas, dengan demam atau tanpa demam. Kulit juga
bisa terinfeksi dengan kuman difteri, secara klinis luka ditutupi selaput ke abu-abuan. Masa
Inkubasi penyakit difteri antara 1 – 10 hari (Centers Disease and Control) dengan rata-rata
2 – 5 hari (Word Health Organization).

              Penyakit Difteri dapat dicegah dengan Imunisasi Lengkap, dengan jadwal pemberian
sesuai usia. Saat ini vaksin untuk imunisasi rutin dan imunisasi lanjutan yang diberikan
guna mencegah penyakit Difteri ada 3 macam, yaitu:

  1. DPT-HB-Hib (vaksin kombinasi mencegah Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B dan Meningitis serta Pneumonia yang disebabkan oleh Haemophylus infuenzae tipe B).
  2. DT (vaksin kombinasi Difteri Tetanus).
  3. Td (vaksin kombinasi Tetanus Difteri).

Imunisasi tersebut diberikan dengan jadwal:

  1. Imunisasi dasar:

Bayi usia 2, 3 dan 4 bulan diberikan vaksin DPT-HB-Hib dengan interval 1 bulan.

  1. Imunisasi Lanjutan:
  2. Anak usia 18 bulan diberikan vaksin DPT-HB-Hib 1 kali.
  3. Anak Sekolah Dasar kelas 1 diberikan vaksin DT pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
  4. Anak Sekolah Dasar kelas 2 dan 5 diberikan vaksin Td pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
  5. Wanita Usia Subur (termasuk wanita hamil) diberikan vaksin Td.

              Selain itu, pencegahan penyakit Difteri dapat dilakukan dengan membiasakan budaya hidup sehat dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), budaya mencuci tangan pakai sabun (CPTS), etika batuk dan bersin, menggunakan masker serta menjaga kebersihan. (Oleh : Tim Perencanaan)

Jari Kaki Lima Kabupaten Sampang Tahun 2022

Jari Kaki Lima Kabupaten SampangTahun 2022

Cacar Monyet (Monkeypox)

Monkeypox pertama kali ditemukan tahun 1958 di Denmark ketika ada dua kasus seperti cacar pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian, sehingga cacar ini dinamakan monkeypox. Kementerian Kesehatan Indonesia baru saja menginformasikan terjadinya kasus pertama cacar monyet (monkeypox) di Indonesia pada hari Sabtu, 20 Agustus 2022. Cacar monyet adalah penyakit menular zoonosis langka yang disebabkan oleh virus monkeypox.

Monkeypox dapat menyebar melalui kontak langsung kulit ke kulit saat berhubungan seks, termasuk ciuman, sentuhan, seks oral dan penetrasi dengan seseorang yang memiliki gejala. Ruam kadang-kadang ditemukan pada alat kelamin dan mulut, yang kemungkinan berkontribusi terhadap penularan selama kontak seksual. Kontak mulut ke kulit dapat menyebabkan penularan di mana terdapat lesi kulit atau mulut. Hindari melakukan kontak dengan siapa pun yang memiliki gejala. Oleh karena itu, orang yang berinteraksi termasuk pasangan seksual juga memiliki risiko lebih besar untuk terinfeksi. Saat ini belum diketahui secara pasti penularan melalui air mani atau cairan vagina. Begitu pula penularan dari orang tanpa gejala (asimptomatis) belum pasti.

Gejala yang paling umum dirasakan yaitu: demam, sakit kepala, nyeri otot, sakit punggung, pembengkakan kelenjar getah bening, kelemahan tubuh (Asthenia), dan lesi cacar (benjolan berisi air ataupun nanah pada seluruh tubuh). Penyakit ini biasanya berlangsung selama 2-4 minggu, dimana masa inkubasi cacar monyet berkisar dari 6-13 hari atau 5-1 hari. Dalam kebanyakan kasus gejala cacar monyet akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu, namun pada beberapa orang penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi bahkan kematian.

Kelompok orang yang berisiko terinfeksi penyakit cacar monyet yaitu: orang yang tinggal dengan atau memiliki kontak erat dengan seseorang yang menderita cacar monyet, petugas kesehatan yang merawat pasien cacar monyet, bayi yang baru lahir, anak kecil dan seseorang dengan defisiensi imun.

Penyakit cacar monyet dapat dicegah dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mencuci tangan setelah kontak dengan hewan, hindari kontak dengan hewan yang terinfeksi (hewan sakit atau mati di area terjadinya monkeypox), dan isolasi individu yang terinfeksi. Seseorang yang merasa terinfeksi cacar monyet disarankan segera mencari nasihat medis ke fasilitas kesehatan terdekat dan mengisolasi diri dari orang lain sampai dievaluasi dan diuji. Jika terkonfirmasi menderita cacar monyet maka disarankan mencari informasi dari petugas kesehatan terkait mengisolasi diri di rumah atau fasilitas kesehatan. (Oleh: Tim Perencanaan)